ANDRAGOGI (Pendidikan Orang Dewasa).
A.
Latar Belakang Masalah
Kesadaran bahwa belajar adalah proses menjadi dirinya
sendiri (process of becoming person) bukan proses untuk dibentuk (process of
beings haped) menurut kehendak orang lain, membawa kesadaran yang lain bahwa kegiatan
belajar harus melibatkan individu atau client dalam proses pemikiran: apa yang
mereka inginkan, apa yang dilakukan, menentukan dan merencanakan serta
melakukan tindakan apa saja yang perlu untuk memenuhi keinginan tersebut. Inti
dari pendidikan adalah menolong orang belajar bagaimana memikirkan diri mereka
sendiri, mengatur urusan kehidupan mereka sendiri untuk berkembang dengan
matang, dengan mempertimbangkan bahwa mereka juga sebagai makhluk sosial
Salah
satu aspek penting dalam pendidikan saat ini yang perlu mendapat perhatian
adalah mengenai
konsep pendidikan untuk orang dewasa. Tidak selamanya kita berbicara dan mengulas
di seputar pendidikan murid sekolah yang relatif berusia muda. Kenyataan di
lapangan, bahwa tidak sedikit orang dewasa yang harus mendapat pendidikan
baik pendidikan informal
maupun nonformal, misalnya pendidikan dalam bentuk keterampilan,
kursus-kursus, penataran
dan sebagainya. Masalah yang sering muncul adalah bagaimana kiat,
dan strategi membelajarkan orang dewasa yang notabene tidak menduduki bangku
sekolah. Dalam hal ini,
orang dewasa sebagai siswa dalam kegiatan belajar tidak dapat
diperlakukan seperti anak-anak
didik biasa yang sedang duduk di bangku sekolah tradisional. Oleh
sebab itu, harus dipahami
bahwa, orang dewasa yang tumbuh sebagai pribadi dan memiliki
kematangan konsep diri
bergerak dari ketergantungan seperti yang terjadi pada masa
kanak-kanak menuju ke arah
kemandirian atau pengarahan diri sendiri. Kematangan psikologi
orang dewasa sebagai pribadi
yang mampu mengarahkan diri sendiri ini mendorong timbulnya
kebutuhan psikologi yang sangat
dalam yaitu keinginan dipandang dan diperlakukan orang lain sebagai
pribadi yang mengarahkan
dirinya sendiri, bukan diarahkan, dipaksa dan dimanipulasi oleh
orang lain.
Berkembangnya
pemahaman kondisi psikologi orang dewasa semacam itu tumbuh dalam teori yang
dikenal dengan nama andragogi. Andragogi sebagai ilmu yang memiliki dimensi
yang luas dan mendalam akan teori belajar dan cara mengajar. Secara singkat
teori ini memberikan dukungan dasar yang esensial bagi kegiatan pembelajaran
orang dewasa. Oleh sebab itu, pendidikan atau usaha pembelajaran orang dewasa
memerlukan pendekatan khusus dan harus memiliki pegangan yang kuat akan konsep
teori yang didasarkan pada asumsi atau pemahaman orang dewasa sebagai siswa.
Dengan
menggunakan teori andragogi kegiatan atau usaha pembelajaran orang
dewasa
dalam kerangka pembangunan atau realisasi pencapaian cita-cita pendidikan
seumur hidup dapat diperoleh dengan dukungan konsep teoritik atau penggunaan
teknologi yang dapat dipertanggung jawabkan. Salah satu masalah dalam
pengertian andragogi adalah pandangannya yang mengemukakan bahwa tujuan
pendidikan itu bersifat mentransmisikan pengetahuan.
Berangkat
dari permasalahan diatas, tujuan dari makalah ini adalah untuk mengkaji
berbagai aspek yang mungkin dilakukan dalam upaya membelajarkan orang dewasa
(andragogi) sebagai salah satu alternatif pemecahan kependidikan, sebab
pendidikan sekarang ini tidak lagi dirumuskan hanya sekedar sebagai upaya untuk
mentransmisikan pengetahuan, tetapi dirumuskan sebagai suatu proses pendidikan
sepanjang.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Andragogi
Knowles dianggap sebagai “Bapaknya andragogi”, pada tahun 1968 dalam
konteks kontra budaya, Knowles melihat andragogi sebagai antitetis
terhadap pedagogi, dimana
merupakan cara yang
mendominasi dalam pelaksanaan
pendidikan. Secara signifikan ia menulis “andragogi bukan pedagogi “. Dua tahun kemudian, dalam
konteks “ruang untuk perkembangan pendidikan
orang dewasa. Ia
menulis the modern practice of
adult education:andragogi versus
pedagogi. Tetapi tahun 1980, terutama
saat maraknya
berbagai kitik yang
ditujukan pada pertentangan ini.
Knowles mengganti sub
judul edisi kedua,
buku yang sama from pedagogi to
andragogi.
Andragogi adalah ilmu
dan seni untuk membantu orang
dewasa belajar. Menurut knowles pada tahun
70-an pembelajaran ini
dianggap sebagai lawan pedagogi.
Sejak awal 80-an
dikembangkan pendekatan
kontinum (continum learning
approach) atau pendekatan berdaur
dan berkelanjutan dalam pembelajaran, pendekatan ini dapat dimulai
dari andragogi dilanjutkan ke pedagogi
atau sebaliknya. Istilah andragogi diambil dari bahasa yunani andr dan agogo. Andr artinya
dewasa dan agogo berarti membimbing atau mengamong.[1] Dalam
hal ini Lindemen menegaskan bahwa, peran pendidikan orang dewasa sebenarnya
tidak untuk meningkatkan dunia
kerja, akan tetapi memasukkan
dunia kerja kedalam kehidupan.[2]
Pendekatan kontinum
didasarkan atas asumsi
bahwa semakin dewasa peserta
didik maka :
(a) konsep dirinya
semakin berubah dari ketergantungan kepada
pendidik menuju sikap
dan perilaku mengarahkan diri dan
saling belajar.(b) makin
berakumulasi pengalaman belajarnya yang dapat dijadikan
sumber belajar (learning resources) dan orientasi belajar mereka
berubah dari penguasaan terhadap
materi kepada kemampuan pemecahan
masalah. (c) kesiapan belajarnya
adalah untuk menguasai kemampuan
dalam melaksanakan tugas-tugas
kehidupan nyata. (d) makin membutuhkan
keterlibatan diri dalam
perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi pembelajaran.
Dari berbagai uraian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa andragogi adalah suatu proses dan
cara khusus penyelenggaraan pendidikan bagi seluruh orang dewasa baik yang cacat
ataupun tidak cacat secara sadar dan berkelanjutan. Sehingga bagi orang dewasa
yang notabenya kurang atau bahkan tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah, ia
dapat membentuk dirinya menjadi pribadi yang berkualitas dalam menghadapi
perkembangan moderenisasi zaman.
B.
Tujuan Pendidikan Orang Dewasa
Kunci
keberhasilan dalam pendidikan orang dewasa adalah mempunyai tujuan, tujuan
merupakan manifestasi dari hasil yang dicapai oleh pendidik maupun peserta
didik. Dalam pendidikan orang dewasa memiliki beberapa tujuan yang hendak ingin
dicapai, yaitu tujuan yang bersifat umum dan bersifat khusus.
Tujuan
umum pendidikan orang dewasa sangat bervariasi, tergantung pada visi dan misi
lembaga yang menyelenggarakannya. Sebagai gambaran tujuan umum dapat kita lihat
dalam tujuan pendidikan nasional Indonesia yang dirumuskan oleh MPR, yaitu
meningkatkan ketakwaan terhadap tuhan yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan,
mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat
kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat
membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan
bangsa.[3]
Dalam tujuan umum ini andragogi dimaksudkan agar setiap orang khususnya orang
dewasa memiliki keterampilan serta kepribadian yang berkualitas ……..
Sedangkan
tujuan khusus yang ingin dicapai adalah agar pengajaran tersebut dapat merubah
prilaku orang dewasa kearah yang lebih baik. Artinya bahwa pendidikan tersebut
nyata-nyata dapat membentuk perubahan prilaku yang spesifik, jelas, dapat
dicapai, dapat didemonstrasikan dan dapat diukur. Dibawah ini beberapa langkah
untuk mewujudkan tujuan secara khusus, antara lain:
Untuk
merumuskan tujuan khusus,[4]
terdapat beberapa langkah yang harus ditempuh yaitu :
a)
Lakukan
penelitian secara hati-hati tentang bagaimana pembelajaran dapat dilaksanakan
dan bermanfaat dalam situasi hidup nyata dan apa yang akan diperoleh jika
pembelajaran dilaksanakan.
b)
Buat
daftar urut materi yang akan diajarkan, kemampuan peserta didik, pengertian,
minat, dan perilaku lain yang penting dan perlu dikembangkan dalam masyarakat.
c)
Buat
daftar tujuan khusus yang diperlukan untuk mencapai tujuan utama.
d)
Melihat
kebutuhan dari segi operasional (fasilitas, staf, dan lain-lain) dan kebutuhan
pendidikan.
e)
Menyaring
kebutuhan berdasarkan maksud kelembagaan, filsafat pendidikan, kelayakan
waktu,biaya, hambatan, dan minat individu.
f)
Menerjemhkan
kebutuhan untuk menjadi tujuan program dan tujuan belajar.
C.
Metode Pendidikan Orang Dewasa
Metode pendidikan bagi orang dewasa
merupakan suatu cara praktis yang dilakukan oleh seorang fasilitator agar usaha
pengajaran yang dilakukan dapat berhasil. Suatu metode dalam pembelajaran
menjadi lebih penting karena hal tersebut dapat mengarahkan kearah pembelajaran
lebih progresif sekaligus dapat memahami berbagai bentuk dan karakter setiap
peserta didiknya.
Adapaun bebrapa metode yang dapat digunakan
dalam pendidikan orang dewasa sangat beragam, diantaranya :
1)
Metode
partisipatif, dalam metode ini memiliki prinsip perencanaan sebagai berikut :
a)
Perencanaan
hubungan dengan masyarakat, antara lembaga pendidikan dan masyarakat perlu ada
hubungan yang harmonis, saling kerjasama, saling memberi dan saling menerima.
b)
Partisipan,
pihak yang layak diikutsertakan dalam perencanaan pendidikan harus menuhi
syarat yaitu tertarik akan masalah pendidikan, mau belajar dari ahli perencana
pendidikan, memiliki kemampuan intelektual sebagai perencana, paham masalah
pendidikan, merupakan anggota kelompok yang dapat bekerja efektif.
c)
Teknik kerja kelompok.
d)
Pembuatan
program.
e)
Pengambilan
keputusan, dalam hal ini yang berwenang mengambil keputusan adalah manajer
tertinggi, tim manajer atau pejabat lain yang ditunjuk.
2)
Metode
demonstrasi, metode ini adalah salah satu metode dalam pendidikan orang dewasa
yang sangat sering digunakan dalam sebuah praktek. Metode demonstrasi tidak
seharusnya digunakan dalam setiap situasi, oleh karenanya perlu memperhatikan
pula tingkat kemampuan subyek atau sasaran bagi peserta pendidik tersebut.[5]
Adapun
langkah –langkah dalam metode demonstrasi antara lain :
a)
Merencanakan,
yang harus dilakukan dalam merencanakan demonstrasi yaitu menentukan masalah
yang akan dipecahkan, tentukan keterampilan yang akan diajarkan, kumpulkan
informasi tentang keterampilan tersebut.
b)
Mempersiapkan
demonstrator, yang harus dilakukan yaitu mempersiapkan semua alat, mengadakan
latihan untuk mempraktekkan keterampilan, persiapkan ruang yang luas, memilih
lokasi yang strategis, demonstrator harus mengetahui materi.
c)
Mempersipakan
pengamat
d)
Evaluasi.[6]
3)
Metode
diskusi. Metode diskusi merupakan metode yang sangat efektif jika peserta yang
terlibat hanya sedikit. Penggunaan metode diskusi untuk kelompok yang semisal berjumlah
10 orang atau lebih memerlukan perencanaan yang cermat dan pimpinan diskusi
yang kompeten. Diskusi merupakan kelompok sebagai pertemuan atau percakapan antara
dua orang atau lebih yang membahas topik tertentu yang menjad pusat perhatian.
Dalam diskusi kelompok, anggota kelompok menunjuk moderator (pimpinan diskusi )
yang menentukan tujuan dan agenda yang harus ditaati.
4)
Metode
pelatihan, metode pelatihan adalah salah satu metode dalam pendidikan orang
dewasa atau dalam pertemuan yang biasa digunakan dalam meningkatkan pengetahuan,
keterampilan, dan mengubah sikap peserta dengan cara yang spesifik. Metode
pelatihan memiliki prosedur rancangan yaitu :
a)
Identifikasi
kebutuhan, yang dimaksud kebutuhan disini yaitu kebutuhan akan pendidikan orang
dewasa dari berbagai pihak yang perlu diidentifikasi secara cermat.
b)
Identifikasi
sasaran, maksud sasaran di sini adalah perilaku peserta yang diharapkan setelah
mengikuti pelatihan.
c)
Identifikasi
sumber, perlu dianalisis sumber – sumber yang diperlukan baik yang sudah
tersedia maupun yang masih diusahakan. Sumber yang dimaksud di sini seperti
dana, penceramah, fasilitator, alat, perlengkapan
d)
Identifikasi
hambatan yaitu mengidentifikasi yang sudah ada yang mungkin timbul pada waktu
pelatihan dilaksanakan.
e)
Seleksi,
seleksi yang harus dilakukan yaitu dengan mempertimbangkan sumber daya,
hambatan, kelebihan dan kelemahan masing-masing alternatif serta sasaran yang
ingin dicapai.[7]
D.
Prinsip-Prinsip Pendidikan Orang Dewasa
Dalam menggunakan pembelajaran berbasis andragogi perlu memperhatikan
prinsip-prinsip dan strategi pembelajaran orang dewasa. Prinsip-prinsip
tersebut adalah sebagai berikut:
1)
Orang
dewasa memiliki konsep diri. Orang dewasa memiliki persepsi bahwa dirinya mampu
membuat suatu keputusan, dapat menghadapi resiko sebagai akibat keputusan yang
diambil, dan dapat mengatur kehidupannya secara mandiri. Harga diri amat penting
bagi orang dewasa. Ia memerlukan pengakuan orang lain terhadap harga dirinya.
Perilaku yang terkesan menggurui, cenderung akan ditanggapi negatif oleh orang
dewasa.
2)
Orang
dewasa memiliki akumulasi pengalaman. Setiap orang dewasa mempunyai pengalaman
situasi, interaksi, dan diri yang berbeda antara seorang dengan lainnya sesuai
dengan perbedaan latar belakang kehidupan dan lingkungannya. Orang dewasa yang mempelajari
sesuatu yang baru cenderung dimaknai dengan menggunakan pengalaman lama. Sejalan
dengan itu peserta didik orang dewasa perlu dilibatkan sebagai sumber dalam
pembelajaran.
3)
Orang
dewasa memiliki kesiapan belajar. Kesiapan belajar orang dewasa akan
seiramadengan peran yang ia tampilkan baik dalam masyarakat maupun dalam tugas
pekerjaan. Implikasinya, urutan program pembelajaran perlu disusun berdasarkan
urutan tugas yang diperankan orang dewasa, bukan berdasarkan urutan logis mata
pelajaran.
4)
Orang
dewasa menginginkan dapat segera memanfaatkan hasil belajarnya. Berpartisipasi
dalam pembelajaran karena ia sedang merespons materi dan proses pembelajaran
yang berhubungan dengan peran dalam kehidupannya.
5)
Orang
dewasa memiliki kemampuan belajar. Kemampuan dasar untuk belajar tetap dimiliki
setiap orang, khususnya orang dewasa, penurunan kemampuan belajar pada usia tua
bukan terletak pada intensitas dan kapasitas intelektualnya melainkan pada
kecepatan belajarnya. Implikasi praktisnya, pendidik perlu mendorong orang dewasa
sebagai peserta didik untuk belajar sesuai dengan kebutuhan belajarnya dan cara
belajar yang di inginkan, dipilih dan ditetapkan oleh orang dewasa.
6)
Orang
dewasa dapat belajar efektif apabila melibatkan mental dan fisik. Orang dewasa
dapat menentukan apa yang akan dipelajari, dimana dan bagaimana cara mempelajarinya,
serta kapan melakukan kegiatan belajar. Orang dewasa belajar dengan melibatkan
pikiran dan perbuatan.[8] Implikasi
praktisnya, orang dewasa akan belajar secara efektif dengan melibatkan fungsi
otak kiri dan otak kanan, menggunakan kemampuan intelek dan emosi, serta dengan
memanfaatkan berbagai media, metode, teknik dan pengalaman belajar
Disamping prinsip-prinsip andragogi yang penulis kemukakan diatas,
perlu kiranya penulis memaparkan beberapa pendekatan dalam andragogi yang perlu
di pahami oleh seorang fasilitator (guru). Ada empat asumsi pendekatan
andragogi antara lain :
a)
Usia
orang dewasa mampu mengarahkan dirinya sendiri (self directedness), asumsi ini
membawa implikasi pada: (1) suasana
belajar diciptakan agar pelajar merasa diterima, dihargai, didukung oleh lingkungan
dengan melakukan interaksi seimbang antara pendidik dan peserta didik. (2)
perhatian lebih diarahkan kepada keterlibatan aktif anak didik. (3) anak didik
harus terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pendidik, pendidik
hanya sebagai fasilitator belajar.
b)
Perlunya
andragogi bagi orang dewasa karena telah memiliki kekayaan pengalaman yang
dapat didayagunakan dalam belajar, asumsi ini membawa implikasi pada : (1)
harus banyak menggunakan teknik partisipatoris yang memberikan pengalaman
konkrit bagi orang dewasa. (2) membimbing peserta didik dalam mengaplikasikan
hasil belajarnya pada kehidupan sehari-hari. (3) dibuat banyak aktifitas yang mendorong
peserta didik agar melihat pengalaman sendiri dan belajar dari pengalaman.
c)
Orang
dewasa belajar berdasar kebutuhan, asumsi ini telah membawa implikasi dalam hal
: (1) kurikulum harus ditata agar sesuai dengan kebutuhan nyata orang dewasa.
(2) kesiapan orang dewasa yang hendak belajar harus dipertimbangkan.
d)
Orientasi
belajar orang dewasa adalah kehidupan, asumsi ini telah membawa implikasi : (1)
pendidik harus mengetahui apa yang menjadi ketertarikan peserta didik, kemudian
membangun pengalaman belajar relevan dengan ketertarikan tersebut. (2)
tahapan-tahapan belajar seharusnya diatur berdasarkan area persoalan, bukan
berdasarkan pada mata pelajaran. (3) pada sesi-sesi awal pembelajaran harus
diupayakan dapat mengindentifikasikasi problem yang lebih spesifik yang ingin dipelajari
lebih dalam oleh peserta didik.[9]
E.
Orientasi Dasar Pendidikan Orang Dewasa (Andragogi)
Sebagaimana yang penulis paparkan diatas, bahwa pendidikan bagi
orang dewasa sangat berbeda dengan pendidikan bagi mereka yang masih berusia
anak-anak. Sebelum penulis memaparkan lebih dalam terkait dengan orientasi
pendidikan bagi orang dewasa, alangkah bijaknya penulis terlebih dahulu
mengemukakan beberapa ciri,[10]
antara lain:
a)
Memungkinkan
timbul pertukaran pendapat.
b)
Memumgkinkan
komunikasi timbal balik.
c)
Suasana
belajar yang diharapkan adalah suasana belajar yang mneyenangkan dan menantang.
d)
Orang
dewasa akan belajar jika pendapatnya dihormati.
e)
Mengutamakan
peran peserta
f)
Orang
dewasa belajar ingin mengetahui kekurangan dan kelebihannya
Terlepas
dari cirri-ciri pendidikan Orang dewasa diatas, ada beberapa orientasi atau
arah yang perlu dicapai dalam teori andragogi. Jenis orientasi dasar yang
penulis maksud dalam belajar khusus bagi
orang dewasa yaitu:
1)
Belajar
mandiri, atau yang biasa disebut arah-diri ( self directed learning )
Hal
ini berfokus pada proses orang dewasa mengendalikan pembelajaran mereka sendiri,
khususnya bagaimana menentukan tujuan belajar, menenemukan sumber daya yang
tepat, menentukan metode pembelajaran yang digunakan dan mengevaluasi kemajuan
belajar mereka sendiri.[11]
Dalam pembelajaran, orang dewasa tidak tergantung kepada guru ataupun dosen, akan
tetapi ia bisa melakukan pembelajaran dengan potensi yang ada pada dirinya
sendiri, guru ataupun dosen hanyalah sebagai sarana untuk membandingkan ataupun
mengembangkan pengetahuannya.Kemandirian sebenarnya merupakan tipe kepribadian
yang normal saja, artinya mampu dimiliki oleh setiap orang dewasa, seperti
Blocher menyebut sebagai “normal personalty” . Manusia berkepribadian menurut
Brown adalah manusia yang memiliki penuh tanggung jawab. Manusia yang bertanggung
jawab menurut Phenix adalah yang memiliki kreteria tanggung jawab yang
dilandasi dengan penguasaan pemahaman, cita-cita hidup yang mendalam, dan
berkemampuan untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan.[12]
Menurut Sanusi, pembinaan kemandirian diperlukan penerapan konsep
istiqomah dan amanah, atau ia menyebutnya sebagai “konsep keberanian”, yakni
keberanian moral, keberanian kreatif, keberanian imani, keberanian ragawi, dan
keberanian komunikasi. Keberanian moral menunjukkan sikap tenang dan sabar
dalam mempelajari sesuatu. Keberanian ragawi dalam pembelajaran menunjukkan
gejala kemampuan tahan lama dan ketekunan dalam mempelajari sesuatu. Keberanian
kreatif adalah kemampuan dan kesanggupan untuk menemukan jalan keluar dalam pemecahan
masalah. Keberanian komunikasi dapat menunjukkan gejala kesanggupan mencari untuk
menemukan sesuatu. Keberanian imani yakni berbudi pekerti luhur berlandaskan
ajaran agama dan tidak mengenal putus asa bila menghadapi masalah.[13]
2)
Refleksi
kritis
Mengembangkan refleksi kritis merupakan suatu
metode yang telah lama di klaim sebagai bentuk dan proses pembelajaran khas orang
dewasa, seperti pengembangan logika, berpikir dialektis, kerja intelektual,
penilaian reflektif, serta berpikir kontekstual dan kritis. Ada tiga refleksi
kritis yang saling berkaitan yaitu (1) proses orang dewasa merumuskan
pertanyaan dan kemudian mengembangkan asumsi sesuai dengan kearifan akalnya. (2)
proses orang dewasa membuat perspektif alternatif atas ide-ide, tindakan,
bentuk-bentuk pemikiran dan ideologi. (3) proses orang dewasa mampu mengenali
dan mengaplikasikan aspek-aspek subtansif yang dipelajari secara representatif.
3)
Belajar
dari pengalaman,
Pengalaman
merupakan guru terbaik, pengalaman adalah jendela kearifan, itulah yang sering
dikaitkan dengan pengalaman. Akan tetapi bagi Lindemen, pengalaman adalah buku
yang hidup bagi pembelajar orang dewasa. Pengalaman merupakan hal yang penting
bagi proses pembelajaran bagi orang dewasa, karena dengan pengalaman seseorang
dapat menyaksikan langsung apa yang dipelajari, serta hal itu merupakan proses
yang dapat merubah pola pikir dan pola hidup seseorang yang sudah dewasa.
4)
Belajar
untuk belajar
Belajar
untuk belajar merupakan upaya orang dewasa untuk mengembangkan wawasan tentang
cara dan kebiasaan belajar mereka sendiri. Dalam konteks ini, orang dewasa
memiliki kesadaran diri tentang bagaimana mereka mengetahui apa yang mereka ketahui,
apa alasan, asumsi, bukti, dan justifikasi yang mendasari keyakinan bahwa
sesuatu itu benar. Dengan cara belajar untuk belajar, orang dewasa akan
menemukan hal-hal yang baru untuk inovasi dalam pembelajaran. Bahkan orang
dewasa dapat menganalisis apa yang dia pelajari menjadi teori yang baru. Beda
dengan anak-anak, ia masih belum bisa menganalisis lebih mendalam dengan apa
yang ia pelajari, akan tetapi mereka hanya dapat menerima apa yang dipelajari
dari sebuah buku ataupun seorang guru. Terkadang ia tak dapat membedakan
kebenaran dan ketidak benaran dalam pembelajaran. Mereka masih mengutamakan”kata
guru ataupun kata buku “
5)
Belajar
jarak jauh.
Pendidikan
jarak jauh kini merupakan pengaturan penting karena didalamnya banyak terjadi
pembelajaran orang dewasa yang signifikan.Orang dewasa tidak harus melakukan
pembelajaran dalam jarak yang dekat, karena berkaitan dengan kemampuan mandiri yang
telah dimiliki oleh orang dewasa. Belajar jarak jauh juga dapat melatih
kekritisan orang dewasa, baik dalam tindakan dan cara berpikir. Karena tanpa
bimbingan seorang guru ataupun dosen, orang dewasa dituntut untuk belajar
mandiri dan dituntut berpikir kritis.
6)
Pembelajaran
observational
Observasi
dalam pembelajaran merupakan hal yang harus dilakukan oleh orang dewasa, karena
tugas orang dewasa bukan hanya menerima, akan tetapi orang dewasa harus mengetahui
kebenaran dari apa yang dipelajari yakni dengan mengadakan observasi.
7)
Pengaturan
diri
Pengendalian
diri merupakan wujud pengaturan diri biasanya dilakukan oleh siswa yang”
bekerja dan belajar lebih keras dari pada yang lainnya “. Menurut Bandura ada
tiga langkah pengaturan-diri yaitu, observasi-diri atau self observation, yaitu
intropeksi diri untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya, menimbang
atau judgment siswa membandingkan apa yang dilihat dengan apa yang distandarkan,
juga membandingkan apa yang bisa dilakukan dengan apa yang harus dilakukan,
respon diri atau self response, siswa melakukan sesuatu dengan baik, bahkan
lebih baik dibandingkan dengan standart dirinya sendiri. Dengan begitu, maka
orang dewasa dapat menentukan tujuan-tujuan dalam belajar dan target yang harus
dia capai.[14]
Dari uraian diatas
terlihat jelas bahwa pendidikan bagi orang dewasa yang berbeda dengan peserta
didik pada umumnya, maka seorang guru atau fasilitator harus memiliki banyak
metode agar pembelajaran yang di ajarkan dapat berhasil dan membentuk sikap
dalam kehidupan yang lebih baik.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Andragogi diambil dari bahasa
yunani andr dan agogo, Andr artinya adalah dewasa
sedangkan agogo berarti membimbing atau mengamong. Jadi secara mendasar
andragodi dapat diartiakn sebagai suatu bentuk pembelajaran bagi orang dewasa. Teori Belajar Adragogi dapat
diterapkan apabila diyakini bahwa peserta didik (siswa-mahasiswa-peserta)
adalah pribadi-pribadi yang matang, dapat mengarahkan diri mereka sendiri,
mengerti diri sendiri, dapat mengambil keputusan untuk sesuatu yang menyangkut
dirinya. Andragogi tidak akan mungkin berkembang apabila meninggalkan ideal
dasar orang dewasa sebagai pribadi yang mengarahkan diri sendiri, oleh karenanya
diperlukan beberapa metode dan prinsip agar pengajaran tersebut dapat berhasil.
Disamping itu pendidikan bagi orang dewasa
harus dibedakan dengan pendidikan pada umumnya. Karena secara fisik orang
dewasa telah mampu berfikir dan bertindak lebih ketimbang usia anak-anak. Tolok
ukur sebuah kedewasaan bukanlah umur, namun sikap dan perilaku, sebab tidak
jarang orang yang sudah berumur, namun belum dewasa. Memang, menjadi tua adalah
suatu keharusan dan menjadi dewasa adalah sebuah pilihan yang tidak setiap
individu memilihnya seiring dengan semakin lanjut usianya. Oleh sebab itu
metode maupun cara yang lebih progresif perlu di ketengahkan, sehingga tujuan
dari pendidikan itu sendiri dapat berhasil.
B.
Saran-Saran
Dalam andragogi, peranan guru, pengajar atau pembimbing yang
sering disebut dengan fasilitator adalah mempersiapkan perangkat atau prosedur
untuk mendorong dan melibatkan secara aktif seluruh warga belajar, maka dalam
proses belajar harus memperhatikan elemen-elemen:
1. Menciptakan
iklim dan suasana yang mendukung proses belajar mandiri
v 2. Menciptakan
mekanisme dan prosedur untuk perencanaan bersama dan partisipatif.
v
3. Diagnosis
kebutuhan-kebutuhan belajar yang spesifik Merumuskan tujuan-tujuan program yang
memenuhi kebutuhan-kebutuhan belajar
v
4. Merencanakan pola pengalaman belajar
v
5. Melakukan
dan menggunakan pengalaman belajar ini dengan metoda dan teknik yang memadai.
v 6. Mengevaluasi hasil belajar dan
mendiagnosis kembali kebutuhan-kebutuhan belajar. Karena ini merupakan
pendidikan untuk orang dewasa maka guru, pengajar atau pembimbing lebih
berperan sebagai fasilitator untuk mengembangkan kreatifitas dalam pemecahan
masalah secara nyata. Semua aktifitas didalam kegiatan belajar haruslah
dibicarakan bersana warga belajar, karena sifat dari orang dewasa (matang)
mempunyai sifat mampu mengarahkan diri sendiri dan setiap orang mempunyai cara
yang berbeda dalam melakukannya, jadi apa yang dilakukan dalam kegiatan belajar
haruslah merupakan kesepakatan bersama.
[1] Djadja
Sudjana, Ilmu Dan Aplikasi Pendidikan, (Bandung: PT. Imperial Bakti
Utama 2007),1.
[2] Pendidikan orang dewasa tidak berkaitan dengan
hal mempersiapkan orang dalam menjalani kehidupannya tetapi lebih membantu
orang dewasa agar mereka sukses dalam menjalani kehidupannya, meningkatkan
kompetensi mereka atau transisi negosiasi dalam peran sosial mereka (pekerja,
orang tua, pensiunan, dan lain-lain), membantu mereka mendapatkan pemuasan yang
lebih baik dalam kehidupan pribadi mereka dan membantu mereka dalam memecahkan
masalah pribadi dan masyarakat mereka. Lihat juga dalam buku yang di tulis oleh
Nining
Fatikasari, dengan judulnya Quo vadis
Pendidikan Orang Dewasa ( Yogyakarta, Pustaka Endi, 2004), hal 43.
[3] Suprijanto, Pendidikan
Orang Dewasa, (Jakarta: Bumi Aksara, tt ),28.
[4] Ibid’
[5] Sutomo, Himat
dan Tumpal, Modul Pelatihan dan Pedoman Praktis Perencanaan Partisipatif
(Jakarta: Cipruy,2003),89.
[6] Ibid
[7] Ibid
[8] Djadja
Sudjana, Ilmu Dan Aplikasi Pendidikan, hal,3.
[9] Eti Nurhayati,
Psikologi Pembelajaran Inovatif (Bandung:
Al-Fabeta,2008),58.
[10] Soedomo, Pendidikan
Luar Sekolah Kearah Pengembangan Sistem Belajar Masyarakat (Jakarta:
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1989
),44.
[11] Sudarwan
Danim, Psikologi Pendidikan ( Bandung : Al-Fabeta, 2010 ), 134
[12] Ibid’
[13] Ibid’
[14] Ibid’