Sabtu, 09 Januari 2016

ANDRAGOGI (Pendidikan Orang Dewasa).

  
                                                 ANDRAGOGI (Pendidikan Orang Dewasa).

A.    Latar Belakang Masalah

Kesadaran bahwa belajar adalah proses menjadi dirinya sendiri (process of becoming person) bukan proses untuk dibentuk (process of beings haped) menurut kehendak orang lain, membawa kesadaran yang lain bahwa kegiatan belajar harus melibatkan individu atau client dalam proses pemikiran: apa yang mereka inginkan, apa yang dilakukan, menentukan dan merencanakan serta melakukan tindakan apa saja yang perlu untuk memenuhi keinginan tersebut. Inti dari pendidikan adalah menolong orang belajar bagaimana memikirkan diri mereka sendiri, mengatur urusan kehidupan mereka sendiri untuk berkembang dengan matang, dengan mempertimbangkan bahwa mereka juga sebagai makhluk sosial
Salah satu aspek penting dalam pendidikan saat ini yang perlu mendapat perhatian adalah mengenai konsep pendidikan untuk orang dewasa. Tidak selamanya kita berbicara dan mengulas di seputar pendidikan murid sekolah yang relatif berusia muda. Kenyataan di lapangan, bahwa tidak sedikit orang dewasa yang harus mendapat pendidikan baik pendidikan informal maupun nonformal, misalnya pendidikan dalam bentuk keterampilan, kursus-kursus, penataran dan sebagainya. Masalah yang sering muncul adalah bagaimana kiat, dan strategi membelajarkan orang dewasa yang notabene tidak menduduki bangku sekolah. Dalam hal ini, orang dewasa sebagai siswa dalam kegiatan belajar tidak dapat diperlakukan seperti anak-anak didik biasa yang sedang duduk di bangku sekolah tradisional. Oleh sebab itu, harus dipahami bahwa, orang dewasa yang tumbuh sebagai pribadi dan memiliki kematangan konsep diri bergerak dari ketergantungan seperti yang terjadi pada masa kanak-kanak menuju ke arah kemandirian atau pengarahan diri sendiri. Kematangan psikologi orang dewasa sebagai pribadi yang mampu mengarahkan diri sendiri ini mendorong timbulnya kebutuhan psikologi yang sangat dalam yaitu keinginan dipandang dan diperlakukan orang lain sebagai pribadi yang mengarahkan dirinya sendiri, bukan diarahkan, dipaksa dan dimanipulasi oleh orang lain.
Berkembangnya pemahaman kondisi psikologi orang dewasa semacam itu tumbuh dalam teori yang dikenal dengan nama andragogi. Andragogi sebagai ilmu yang memiliki dimensi yang luas dan mendalam akan teori belajar dan cara mengajar. Secara singkat teori ini memberikan dukungan dasar yang esensial bagi kegiatan pembelajaran orang dewasa. Oleh sebab itu, pendidikan atau usaha pembelajaran orang dewasa memerlukan pendekatan khusus dan harus memiliki pegangan yang kuat akan konsep teori yang didasarkan pada asumsi atau pemahaman orang dewasa sebagai siswa.
Dengan menggunakan teori andragogi kegiatan atau usaha pembelajaran orang
dewasa dalam kerangka pembangunan atau realisasi pencapaian cita-cita pendidikan seumur hidup dapat diperoleh dengan dukungan konsep teoritik atau penggunaan teknologi yang dapat dipertanggung jawabkan. Salah satu masalah dalam pengertian andragogi adalah pandangannya yang mengemukakan bahwa tujuan pendidikan itu bersifat mentransmisikan pengetahuan.
Berangkat dari permasalahan diatas, tujuan dari makalah ini adalah untuk mengkaji berbagai aspek yang mungkin dilakukan dalam upaya membelajarkan orang dewasa (andragogi) sebagai salah satu alternatif pemecahan kependidikan, sebab pendidikan sekarang ini tidak lagi dirumuskan hanya sekedar sebagai upaya untuk mentransmisikan pengetahuan, tetapi dirumuskan sebagai suatu proses pendidikan sepanjang.





PEMBAHASAN

      A.    Pengertian Andragogi

Knowles dianggap sebagai “Bapaknya andragogi”, pada tahun 1968 dalam konteks kontra budaya, Knowles melihat andragogi sebagai antitetis terhadap  pedagogi,  dimana  merupakan  cara  yang  mendominasi  dalam pelaksanaan pendidikan. Secara signifikan ia menulis “andragogi  bukan pedagogi “. Dua tahun kemudian, dalam konteks “ruang untuk  perkembangan  pendidikan  orang  dewasa.  Ia  menulis the  modern practice  of  adult  education:andragogi  versus  pedagogi. Tetapi  tahun 1980,   terutama   saat   maraknya   berbagai   kitik   yang   ditujukan   pada pertentangan  ini.  Knowles  mengganti  sub  judul  edisi  kedua,  buku  yang sama from pedagogi to andragogi.
Andragogi  adalah  ilmu  dan  seni  untuk  membantu  orang  dewasa belajar. Menurut  knowles pada  tahun  70-an  pembelajaran  ini  dianggap sebagai  lawan  pedagogi.  Sejak  awal  80-an  dikembangkan  pendekatan kontinum  (continum  learning  approach) atau  pendekatan  berdaur  dan berkelanjutan    dalam    pembelajaran, pendekatan ini dapat dimulai dari andragogi dilanjutkan ke pedagogi  atau sebaliknya.  Istilah  andragogi diambil dari bahasa  yunani andr dan agogo. Andr artinya dewasa dan agogo berarti membimbing atau mengamong.[1] Dalam hal ini Lindemen menegaskan bahwa, peran pendidikan orang dewasa sebenarnya tidak untuk  meningkatkan  dunia  kerja,  akan tetapi  memasukkan    dunia kerja kedalam kehidupan.[2]
 Pendekatan   kontinum   didasarkan   atas   asumsi   bahwa   semakin dewasa  peserta  didik  maka  :  (a)  konsep  dirinya  semakin  berubah  dari ketergantungan  kepada  pendidik  menuju  sikap  dan perilaku  mengarahkan diri  dan  saling  belajar.(b)  makin  berakumulasi  pengalaman  belajarnya yang dapat  dijadikan  sumber  belajar (learning  resources) dan  orientasi belajar    mereka    berubah    dari    penguasaan    terhadap    materi    kepada kemampuan  pemecahan  masalah.  (c) kesiapan  belajarnya  adalah  untuk menguasai   kemampuan   dalam   melaksanakan   tugas-tugas   kehidupan nyata. (d)   makin   membutuhkan   keterlibatan   diri   dalam   perencanaan,  pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran.
Dari berbagai uraian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa andragogi adalah suatu proses dan cara khusus penyelenggaraan pendidikan bagi seluruh orang dewasa baik yang cacat ataupun tidak cacat secara sadar dan berkelanjutan. Sehingga bagi orang dewasa yang notabenya kurang atau bahkan tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah, ia dapat membentuk dirinya menjadi pribadi yang berkualitas dalam menghadapi perkembangan moderenisasi zaman.

B.     Tujuan Pendidikan Orang Dewasa

Kunci keberhasilan dalam pendidikan orang dewasa adalah mempunyai tujuan, tujuan merupakan manifestasi dari hasil yang dicapai oleh pendidik maupun peserta didik. Dalam pendidikan orang dewasa memiliki beberapa tujuan yang hendak ingin dicapai, yaitu tujuan yang bersifat umum dan bersifat khusus.
Tujuan umum pendidikan orang dewasa sangat bervariasi, tergantung pada visi dan misi lembaga yang menyelenggarakannya. Sebagai gambaran tujuan umum dapat kita lihat dalam tujuan pendidikan nasional Indonesia yang dirumuskan oleh MPR, yaitu meningkatkan ketakwaan terhadap tuhan yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.[3] Dalam tujuan umum ini andragogi dimaksudkan agar setiap orang khususnya orang dewasa memiliki keterampilan serta kepribadian yang berkualitas ……..
Sedangkan tujuan khusus yang ingin dicapai adalah agar pengajaran tersebut dapat merubah prilaku orang dewasa kearah yang lebih baik. Artinya bahwa pendidikan tersebut nyata-nyata dapat membentuk perubahan prilaku yang spesifik, jelas, dapat dicapai, dapat didemonstrasikan dan dapat diukur. Dibawah ini beberapa langkah untuk mewujudkan tujuan secara khusus, antara lain:
Untuk merumuskan tujuan khusus,[4] terdapat beberapa langkah yang harus ditempuh yaitu :
               a)      Lakukan penelitian secara hati-hati tentang bagaimana pembelajaran dapat dilaksanakan dan bermanfaat dalam situasi hidup nyata dan apa yang akan diperoleh jika pembelajaran dilaksanakan.   
        b)      Buat daftar urut materi yang akan diajarkan, kemampuan peserta didik, pengertian, minat, dan perilaku lain yang penting dan perlu dikembangkan dalam masyarakat.
         c)      Buat daftar tujuan khusus yang diperlukan untuk mencapai tujuan utama.
        d)     Melihat kebutuhan dari segi operasional (fasilitas, staf, dan lain-lain) dan kebutuhan pendidikan.
      e)      Menyaring kebutuhan berdasarkan maksud kelembagaan, filsafat pendidikan, kelayakan waktu,biaya, hambatan, dan minat individu.
        f)       Menerjemhkan kebutuhan untuk menjadi tujuan program dan tujuan belajar.



C.    Metode Pendidikan Orang Dewasa

      Metode pendidikan bagi orang dewasa merupakan suatu cara praktis yang dilakukan oleh seorang fasilitator agar usaha pengajaran yang dilakukan dapat berhasil. Suatu metode dalam pembelajaran menjadi lebih penting karena hal tersebut dapat mengarahkan kearah pembelajaran lebih progresif sekaligus dapat memahami berbagai bentuk dan karakter setiap peserta didiknya.
      Adapaun bebrapa metode yang dapat digunakan dalam pendidikan orang dewasa sangat beragam, diantaranya :
1)      Metode partisipatif, dalam metode ini memiliki prinsip perencanaan sebagai berikut :
a)      Perencanaan hubungan dengan masyarakat, antara lembaga pendidikan dan masyarakat perlu ada hubungan yang harmonis, saling kerjasama, saling memberi dan saling menerima.
b)      Partisipan, pihak yang layak diikutsertakan dalam perencanaan pendidikan harus menuhi syarat yaitu tertarik akan masalah pendidikan, mau belajar dari ahli perencana pendidikan, memiliki kemampuan intelektual sebagai perencana, paham masalah pendidikan, merupakan anggota kelompok yang dapat bekerja efektif.
c)       Teknik kerja kelompok.
d)     Pembuatan program.
e)      Pengambilan keputusan, dalam hal ini yang berwenang mengambil keputusan adalah manajer tertinggi, tim manajer atau pejabat lain yang ditunjuk.

2)      Metode demonstrasi, metode ini adalah salah satu metode dalam pendidikan orang dewasa yang sangat sering digunakan dalam sebuah praktek. Metode demonstrasi tidak seharusnya digunakan dalam setiap situasi, oleh karenanya perlu memperhatikan pula tingkat kemampuan subyek atau sasaran bagi peserta pendidik tersebut.[5]

Adapun langkah –langkah dalam metode demonstrasi antara lain :

a)      Merencanakan, yang harus dilakukan dalam merencanakan demonstrasi yaitu menentukan masalah yang akan dipecahkan, tentukan keterampilan yang akan diajarkan, kumpulkan informasi tentang keterampilan tersebut.
b)      Mempersiapkan demonstrator, yang harus dilakukan yaitu mempersiapkan semua alat, mengadakan latihan untuk mempraktekkan keterampilan, persiapkan ruang yang luas, memilih lokasi yang strategis, demonstrator harus mengetahui materi.
c)      Mempersipakan pengamat
d)     Evaluasi.[6]

3)      Metode diskusi. Metode diskusi merupakan metode yang sangat efektif jika peserta yang terlibat hanya sedikit. Penggunaan metode diskusi untuk kelompok yang semisal berjumlah 10 orang atau lebih memerlukan perencanaan yang cermat dan pimpinan diskusi yang kompeten. Diskusi merupakan kelompok sebagai pertemuan atau percakapan antara dua orang atau lebih yang membahas topik tertentu yang menjad pusat perhatian. Dalam diskusi kelompok, anggota kelompok menunjuk moderator (pimpinan diskusi ) yang menentukan tujuan dan agenda yang harus ditaati.

4)      Metode pelatihan, metode pelatihan adalah salah satu metode dalam pendidikan orang dewasa atau dalam pertemuan yang biasa digunakan dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan mengubah sikap peserta dengan cara yang spesifik. Metode pelatihan memiliki prosedur rancangan yaitu :

a)      Identifikasi kebutuhan, yang dimaksud kebutuhan disini yaitu kebutuhan akan pendidikan orang dewasa dari berbagai pihak yang perlu diidentifikasi secara cermat.
b)      Identifikasi sasaran, maksud sasaran di sini adalah perilaku peserta yang diharapkan setelah mengikuti pelatihan.
c)      Identifikasi sumber, perlu dianalisis sumber – sumber yang diperlukan baik yang sudah tersedia maupun yang masih diusahakan. Sumber yang dimaksud di sini seperti dana, penceramah, fasilitator, alat, perlengkapan
d)     Identifikasi hambatan yaitu mengidentifikasi yang sudah ada yang mungkin timbul pada waktu pelatihan dilaksanakan.
e)      Seleksi, seleksi yang harus dilakukan yaitu dengan mempertimbangkan sumber daya, hambatan, kelebihan dan kelemahan masing-masing alternatif serta sasaran yang ingin dicapai.[7]

D.    Prinsip-Prinsip Pendidikan Orang Dewasa
Dalam menggunakan pembelajaran berbasis andragogi perlu memperhatikan prinsip-prinsip dan strategi pembelajaran orang dewasa. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
1)      Orang dewasa memiliki konsep diri. Orang dewasa memiliki persepsi bahwa dirinya mampu membuat suatu keputusan, dapat menghadapi resiko sebagai akibat keputusan yang diambil, dan dapat mengatur kehidupannya secara mandiri. Harga diri amat penting bagi orang dewasa. Ia memerlukan pengakuan orang lain terhadap harga dirinya. Perilaku yang terkesan menggurui, cenderung akan ditanggapi negatif oleh orang dewasa.
2)      Orang dewasa memiliki akumulasi pengalaman. Setiap orang dewasa mempunyai pengalaman situasi, interaksi, dan diri yang berbeda antara seorang dengan lainnya sesuai dengan perbedaan latar belakang kehidupan dan lingkungannya. Orang dewasa yang mempelajari sesuatu yang baru cenderung dimaknai dengan menggunakan pengalaman lama. Sejalan dengan itu peserta didik orang dewasa perlu dilibatkan sebagai sumber dalam pembelajaran.
3)      Orang dewasa memiliki kesiapan belajar. Kesiapan belajar orang dewasa akan seiramadengan peran yang ia tampilkan baik dalam masyarakat maupun dalam tugas pekerjaan. Implikasinya, urutan program pembelajaran perlu disusun berdasarkan urutan tugas yang diperankan orang dewasa, bukan berdasarkan urutan logis mata pelajaran.
4)      Orang dewasa menginginkan dapat segera memanfaatkan hasil belajarnya. Berpartisipasi dalam pembelajaran karena ia sedang merespons materi dan proses pembelajaran yang berhubungan dengan peran dalam kehidupannya.
5)      Orang dewasa memiliki kemampuan belajar. Kemampuan dasar untuk belajar tetap dimiliki setiap orang, khususnya orang dewasa, penurunan kemampuan belajar pada usia tua bukan terletak pada intensitas dan kapasitas intelektualnya melainkan pada kecepatan belajarnya. Implikasi praktisnya, pendidik perlu mendorong orang dewasa sebagai peserta didik untuk belajar sesuai dengan kebutuhan belajarnya dan cara belajar yang di inginkan, dipilih dan ditetapkan oleh orang dewasa.
6)      Orang dewasa dapat belajar efektif apabila melibatkan mental dan fisik. Orang dewasa dapat menentukan apa yang akan dipelajari, dimana dan bagaimana cara mempelajarinya, serta kapan melakukan kegiatan belajar. Orang dewasa belajar dengan melibatkan pikiran dan perbuatan.[8] Implikasi praktisnya, orang dewasa akan belajar secara efektif dengan melibatkan fungsi otak kiri dan otak kanan, menggunakan kemampuan intelek dan emosi, serta dengan memanfaatkan berbagai media, metode, teknik dan pengalaman belajar
Disamping prinsip-prinsip andragogi yang penulis kemukakan diatas, perlu kiranya penulis memaparkan beberapa pendekatan dalam andragogi yang perlu di pahami oleh seorang fasilitator (guru). Ada empat asumsi pendekatan andragogi antara lain :
a)      Usia orang dewasa mampu mengarahkan dirinya sendiri (self directedness), asumsi ini membawa implikasi pada:  (1) suasana belajar diciptakan agar pelajar merasa diterima, dihargai, didukung oleh lingkungan dengan melakukan interaksi seimbang antara pendidik dan peserta didik. (2) perhatian lebih diarahkan kepada keterlibatan aktif anak didik. (3) anak didik harus terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pendidik, pendidik hanya sebagai fasilitator belajar.
b)      Perlunya andragogi bagi orang dewasa karena telah memiliki kekayaan pengalaman yang dapat didayagunakan dalam belajar, asumsi ini membawa implikasi pada : (1) harus banyak menggunakan teknik partisipatoris yang memberikan pengalaman konkrit bagi orang dewasa. (2) membimbing peserta didik dalam mengaplikasikan hasil belajarnya pada kehidupan sehari-hari. (3) dibuat banyak aktifitas yang mendorong peserta didik agar melihat pengalaman sendiri dan belajar dari pengalaman.
c)      Orang dewasa belajar berdasar kebutuhan, asumsi ini telah membawa implikasi dalam hal : (1) kurikulum harus ditata agar sesuai dengan kebutuhan nyata orang dewasa. (2) kesiapan orang dewasa yang hendak belajar harus dipertimbangkan.
d)     Orientasi belajar orang dewasa adalah kehidupan, asumsi ini telah membawa implikasi : (1) pendidik harus mengetahui apa yang menjadi ketertarikan peserta didik, kemudian membangun pengalaman belajar relevan dengan ketertarikan tersebut. (2) tahapan-tahapan belajar seharusnya diatur berdasarkan area persoalan, bukan berdasarkan pada mata pelajaran. (3) pada sesi-sesi awal pembelajaran harus diupayakan dapat mengindentifikasikasi problem yang lebih spesifik yang ingin dipelajari lebih dalam oleh peserta didik.[9]

E.     Orientasi Dasar Pendidikan Orang Dewasa (Andragogi)

Sebagaimana yang penulis paparkan diatas, bahwa pendidikan bagi orang dewasa sangat berbeda dengan pendidikan bagi mereka yang masih berusia anak-anak. Sebelum penulis memaparkan lebih dalam terkait dengan orientasi pendidikan bagi orang dewasa, alangkah bijaknya penulis terlebih dahulu mengemukakan beberapa ciri,[10] antara lain:
a)      Memungkinkan timbul pertukaran pendapat.
b)      Memumgkinkan komunikasi timbal balik.
c)      Suasana belajar yang diharapkan adalah suasana belajar yang mneyenangkan dan menantang.
d)     Orang dewasa akan belajar jika pendapatnya dihormati.
e)      Mengutamakan peran peserta
f)       Orang dewasa belajar ingin mengetahui kekurangan dan kelebihannya

Terlepas dari cirri-ciri pendidikan Orang dewasa diatas, ada beberapa orientasi atau arah yang perlu dicapai dalam teori andragogi. Jenis orientasi dasar yang penulis maksud dalam belajar  khusus bagi orang dewasa yaitu:


          1)      Belajar mandiri, atau yang biasa disebut arah-diri ( self directed learning

Hal ini berfokus pada proses orang dewasa mengendalikan pembelajaran mereka sendiri, khususnya bagaimana menentukan tujuan belajar, menenemukan sumber daya yang tepat, menentukan metode pembelajaran yang digunakan dan mengevaluasi kemajuan belajar mereka sendiri.[11] Dalam pembelajaran, orang dewasa tidak tergantung kepada guru ataupun dosen, akan tetapi ia bisa melakukan pembelajaran dengan potensi yang ada pada dirinya sendiri, guru ataupun dosen hanyalah sebagai sarana untuk membandingkan ataupun mengembangkan pengetahuannya.Kemandirian sebenarnya merupakan tipe kepribadian yang normal saja, artinya mampu dimiliki oleh setiap orang dewasa, seperti Blocher menyebut sebagai “normal personalty” . Manusia berkepribadian menurut Brown adalah manusia yang memiliki penuh tanggung jawab. Manusia yang bertanggung jawab menurut Phenix adalah yang memiliki kreteria tanggung jawab yang dilandasi dengan penguasaan pemahaman, cita-cita hidup yang mendalam, dan berkemampuan untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan.[12]
Menurut Sanusi, pembinaan kemandirian diperlukan penerapan konsep istiqomah dan amanah, atau ia menyebutnya sebagai “konsep keberanian”, yakni keberanian moral, keberanian kreatif, keberanian imani, keberanian ragawi, dan keberanian komunikasi. Keberanian moral menunjukkan sikap tenang dan sabar dalam mempelajari sesuatu. Keberanian ragawi dalam pembelajaran menunjukkan gejala kemampuan tahan lama dan ketekunan dalam mempelajari sesuatu. Keberanian kreatif adalah kemampuan dan kesanggupan untuk menemukan jalan keluar dalam pemecahan masalah. Keberanian komunikasi dapat menunjukkan gejala kesanggupan mencari untuk menemukan sesuatu. Keberanian imani yakni berbudi pekerti luhur berlandaskan ajaran agama dan tidak mengenal putus asa bila menghadapi masalah.[13]

        2)      Refleksi kritis

 Mengembangkan refleksi kritis merupakan suatu metode yang telah lama di klaim sebagai bentuk dan proses pembelajaran khas orang dewasa, seperti pengembangan logika, berpikir dialektis, kerja intelektual, penilaian reflektif, serta berpikir kontekstual dan kritis. Ada tiga refleksi kritis yang saling berkaitan yaitu (1) proses orang dewasa merumuskan pertanyaan dan kemudian mengembangkan asumsi sesuai dengan kearifan akalnya. (2) proses orang dewasa membuat perspektif alternatif atas ide-ide, tindakan, bentuk-bentuk pemikiran dan ideologi. (3) proses orang dewasa mampu mengenali dan mengaplikasikan aspek-aspek subtansif yang dipelajari secara representatif.

           3)      Belajar dari pengalaman, 

Pengalaman merupakan guru terbaik, pengalaman adalah jendela kearifan, itulah yang sering dikaitkan dengan pengalaman. Akan tetapi bagi Lindemen, pengalaman adalah buku yang hidup bagi pembelajar orang dewasa. Pengalaman merupakan hal yang penting bagi proses pembelajaran bagi orang dewasa, karena dengan pengalaman seseorang dapat menyaksikan langsung apa yang dipelajari, serta hal itu merupakan proses yang dapat merubah pola pikir dan pola hidup seseorang yang sudah dewasa.

       4)      Belajar untuk belajar

Belajar untuk belajar merupakan upaya orang dewasa untuk mengembangkan wawasan tentang cara dan kebiasaan belajar mereka sendiri. Dalam konteks ini, orang dewasa memiliki kesadaran diri tentang bagaimana mereka mengetahui apa yang mereka ketahui, apa alasan, asumsi, bukti, dan justifikasi yang mendasari keyakinan bahwa sesuatu itu benar. Dengan cara belajar untuk belajar, orang dewasa akan menemukan hal-hal yang baru untuk inovasi dalam pembelajaran. Bahkan orang dewasa dapat menganalisis apa yang dia pelajari menjadi teori yang baru. Beda dengan anak-anak, ia masih belum bisa menganalisis lebih mendalam dengan apa yang ia pelajari, akan tetapi mereka hanya dapat menerima apa yang dipelajari dari sebuah buku ataupun seorang guru. Terkadang ia tak dapat membedakan kebenaran dan ketidak benaran dalam pembelajaran. Mereka masih mengutamakan”kata guru ataupun kata buku “

             5)      Belajar jarak jauh.

Pendidikan jarak jauh kini merupakan pengaturan penting karena didalamnya banyak terjadi pembelajaran orang dewasa yang signifikan.Orang dewasa tidak harus melakukan pembelajaran dalam jarak yang dekat, karena berkaitan dengan kemampuan mandiri yang telah dimiliki oleh orang dewasa. Belajar jarak jauh juga dapat melatih kekritisan orang dewasa, baik dalam tindakan dan cara berpikir. Karena tanpa bimbingan seorang guru ataupun dosen, orang dewasa dituntut untuk belajar mandiri dan dituntut berpikir kritis.
 
           6)     Pembelajaran observational

Observasi dalam pembelajaran merupakan hal yang harus dilakukan oleh orang dewasa, karena tugas orang dewasa bukan hanya menerima, akan tetapi orang dewasa harus mengetahui kebenaran dari apa yang dipelajari yakni dengan mengadakan observasi.

          7)      Pengaturan diri

Pengendalian diri merupakan wujud pengaturan diri biasanya dilakukan oleh siswa yang” bekerja dan belajar lebih keras dari pada yang lainnya “. Menurut Bandura ada tiga langkah pengaturan-diri yaitu, observasi-diri atau self observation, yaitu intropeksi diri untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya, menimbang atau judgment siswa membandingkan apa yang dilihat dengan apa yang distandarkan, juga membandingkan apa yang bisa dilakukan dengan apa yang harus dilakukan, respon diri atau self response, siswa melakukan sesuatu dengan baik, bahkan lebih baik dibandingkan dengan standart dirinya sendiri. Dengan begitu, maka orang dewasa dapat menentukan tujuan-tujuan dalam belajar dan target yang harus dia capai.[14]
      Dari uraian diatas terlihat jelas bahwa pendidikan bagi orang dewasa yang berbeda dengan peserta didik pada umumnya, maka seorang guru atau fasilitator harus memiliki banyak metode agar pembelajaran yang di ajarkan dapat berhasil dan membentuk sikap dalam kehidupan yang lebih baik.



PENUTUP
A.    Kesimpulan

Andragogi diambil dari bahasa  yunani andr dan agogo, Andr artinya adalah dewasa sedangkan agogo berarti membimbing atau mengamong. Jadi secara mendasar andragodi dapat diartiakn sebagai suatu bentuk pembelajaran bagi orang dewasa. Teori Belajar Adragogi dapat diterapkan apabila diyakini bahwa peserta didik (siswa-mahasiswa-peserta) adalah pribadi-pribadi yang matang, dapat mengarahkan diri mereka sendiri, mengerti diri sendiri, dapat mengambil keputusan untuk sesuatu yang menyangkut dirinya. Andragogi tidak akan mungkin berkembang apabila meninggalkan ideal dasar orang dewasa sebagai pribadi yang mengarahkan diri sendiri, oleh karenanya diperlukan beberapa metode dan prinsip agar pengajaran tersebut dapat berhasil.
 Disamping itu pendidikan bagi orang dewasa harus dibedakan dengan pendidikan pada umumnya. Karena secara fisik orang dewasa telah mampu berfikir dan bertindak lebih ketimbang usia anak-anak. Tolok ukur sebuah kedewasaan bukanlah umur, namun sikap dan perilaku, sebab tidak jarang orang yang sudah berumur, namun belum dewasa. Memang, menjadi tua adalah suatu keharusan dan menjadi dewasa adalah sebuah pilihan yang tidak setiap individu memilihnya seiring dengan semakin lanjut usianya. Oleh sebab itu metode maupun cara yang lebih progresif perlu di ketengahkan, sehingga tujuan dari pendidikan itu sendiri dapat berhasil. 

B.     Saran-Saran

Dalam andragogi, peranan guru, pengajar atau pembimbing yang sering disebut dengan fasilitator adalah mempersiapkan perangkat atau prosedur untuk mendorong dan melibatkan secara aktif seluruh warga belajar, maka dalam proses belajar harus memperhatikan elemen-elemen:
       1. Menciptakan iklim dan suasana yang mendukung proses belajar mandiri
v         2. Menciptakan mekanisme dan prosedur untuk perencanaan bersama dan partisipatif.
v    3. Diagnosis kebutuhan-kebutuhan belajar yang spesifik Merumuskan tujuan-tujuan program yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan belajar
v  4. Merencanakan pola pengalaman belajar
v  5. Melakukan dan menggunakan pengalaman belajar ini dengan metoda dan teknik yang memadai.
v  6. Mengevaluasi hasil belajar dan mendiagnosis kembali kebutuhan-kebutuhan belajar. Karena ini merupakan pendidikan untuk orang dewasa maka guru, pengajar atau pembimbing lebih berperan sebagai fasilitator untuk mengembangkan kreatifitas dalam pemecahan masalah secara nyata. Semua aktifitas didalam kegiatan belajar haruslah dibicarakan bersana warga belajar, karena sifat dari orang dewasa (matang) mempunyai sifat mampu mengarahkan diri sendiri dan setiap orang mempunyai cara yang berbeda dalam melakukannya, jadi apa yang dilakukan dalam kegiatan belajar haruslah merupakan kesepakatan bersama.






[1] Djadja Sudjana, Ilmu Dan Aplikasi Pendidikan, (Bandung: PT. Imperial Bakti Utama 2007),1.
[2] Pendidikan orang dewasa tidak berkaitan dengan hal mempersiapkan orang dalam menjalani kehidupannya tetapi lebih membantu orang dewasa agar mereka sukses dalam menjalani kehidupannya, meningkatkan kompetensi mereka atau transisi negosiasi dalam peran sosial mereka (pekerja, orang tua, pensiunan, dan lain-lain), membantu mereka mendapatkan pemuasan yang lebih baik dalam kehidupan pribadi mereka dan membantu mereka dalam memecahkan masalah pribadi dan masyarakat mereka. Lihat juga dalam buku yang di tulis oleh Nining Fatikasari,  dengan judulnya Quo vadis Pendidikan Orang Dewasa ( Yogyakarta, Pustaka Endi, 2004), hal 43.
[3] Suprijanto, Pendidikan Orang Dewasa, (Jakarta: Bumi Aksara, tt ),28.
[4] Ibid’
[5] Sutomo, Himat dan Tumpal, Modul Pelatihan dan Pedoman Praktis Perencanaan Partisipatif (Jakarta: Cipruy,2003),89.
[6] Ibid
[7] Ibid
[8] Djadja Sudjana, Ilmu Dan Aplikasi Pendidikan, hal,3.
[9] Eti Nurhayati, Psikologi Pembelajaran Inovatif  (Bandung: Al-Fabeta,2008),58.
[10] Soedomo, Pendidikan Luar Sekolah Kearah Pengembangan Sistem Belajar Masyarakat (Jakarta: Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1989 ),44.
[11] Sudarwan Danim, Psikologi Pendidikan ( Bandung : Al-Fabeta, 2010 ), 134
[12] Ibid’
[13] Ibid’
[14]  Ibid’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar